Rabu, 02 November 2016

Cerpen Muslimah



Kutitipkan Rindu dalam Surah Ar-Rohman
Karya : Nurashikin
             




   Aku mengenalmu tanpa sengaja. Mungkin bukan, tapi ini takdir Tuhan. Sebuah kebetulan yang sangat misterius. Untuk apa Tuhan mempertemukan kita? Aku tak terlalu memikirkan hal itu, tapi aku yakin dan percaya bahwa Tuhan punya rencana yang begitu indah.
            Hari hujan. Aku memutuskan untuk berteduh di mushalla kampus. Tak lama setelah itu, aplikasi pengingat sholat di smartphone ku berbunyi “Alhamdulillah, sudah masuk waktu ashar.” Lalu aku masuk ke dalam mushalla untuk meletakkan tas, baru kemudian mengambil wudhu. Namun aku tertegun. Langkahku terhenti. Ditengah kilat menyambar dan bunyi petir yang menggelegar, sayup-sayup aku mendengar lantunan ayat suci Al-Qur’an dari barisan shaf sholat pria.
Lama aku terdiam mendengarkannya. “Subhanallah, sungguh indah bacaan surat ar-Rahman itu. Siapa yang membacanya? Malaikat-kah?” gumamku dalam hati. Kemudian aku bergegas ke tempat untuk mengambil wudhu. Sambil berjalan aku berusaha mencari siapa gerangan yang mengaji dengan indahnya sambil mengikuti sumber lantunannya. Sekilas aku melihat memang ada seseorang yang sedang khusyuk mengaji.
Selesai berwudhu, aku masuk lagi ke dalam mushalla. Masih terdengar lantunan yang masih dibacanya. Terlalu indah yang kudengarkan sampai mengacaukan kekhusyukan sholatku saat itu. Hujan yang turun semakin menyejukkan tubuhku. Namun lantunan al-Qur’an itu menyejukkan Qalbu-ku. Rasanya aku ingin bertemu dengan sosokmu, yang mungkin lembut, selembut tuturmu dalam membaca kitab suci.
Hujan pun mereda sesaat setelah lantunan al-Qur’an selesai dibacakan. Aku pun mengambil barang-barangku dan bergegas untuk pergi. Tapi karena terlalu terburu-buru, aku menabrak seseorang sehingga buku-buku yang kubawa ikut terjatuh. Masya Allah “ujarnya”. Kemudian ia membungkuk untuk mengambil buku-buku itu.
“Maaf, maafkan saya. Saya benar-benar tidak sengaja” katanya sambil memberikan buku-bukuku itu.
“Oh tidak apa-apa. Terima kasih karena akhi sudah bantu saya mengambilkan buku” kuucapkan sambil menerima buku.
            “Iya, sama-sama. Tapi ukhti tidak apa-apa, kan?” katanya.
            “Alhamdulillah, saya tidak apa-apa” ujarku sambil tersenyum.
            Sejenak aku memikirkan sesuatu. Apa mungkin dia? Kemudian aku memberanikan diri bertanya padanya. “Apa tadi yang membaca al-Qur’an itu adalah akhi?”
            “Apa ukhti mendengarnya? Iya, itu tadi saya. Tapi bagaimana mungkin ukhti mendengarnya? Bukankah tadi di luar suara petirnya begitu kuat sekali?” jawabnya dengan sopan.
            “Iya, aku sungguh mendengarnya. Subhanallah. Begitu merdu sekali yang akhi lantunkan. Rasanya Qalbu saya tentram mendengarnya.” Ucapku berkata jujur.
            Dia tersenyum, “Alhamdulillah. Syukron, yaa ukhti. Oh ya, dari tadi kita bicara panjang lebar, tapi sama sekali belum berkenalan ya. Kalau boleh tahu, nama ukhti siapa?”
            Aku menjawab, “Nama saya Fitri. Kalau akhi?
            Ia menjawab dengan ramah, “Saya Firman. Fitri kuliah di sini juga? Di jurusan apa?”
            “Fitri jurusan psikologi. Kalau Firman sendiri?” tanyaku.
            “Jadi ceritanya Fitri calon psikolog muslimah ni, ya. Kalau saya di jurusan matematika.” Jawabnya lagi.
            “Hahaha.. Firman bisa saja. Aamiin, do’akan saja ya. Apa Firman tidak pusing berhadapan dengan angka-angka? Jujur, sebenarnya Fitri tidak terlalu menyukai matematika.” Ujarku sambil tertawa.
            Ia pun tertawa, “Nggak sulit. Malah mungkin lebih sulit psikologi yang harus menghafal banyak materi ya, kan? Saya kurang suka menghafal”
            “Saling berseberangan, ya. Hahaha.. Ya udah, sekarang kita lanjut aktivitas masing-masing, ya. Senang bertemu dengan akhi. Assalammu ‘alaikum.” ujarku sambil menyusun jari sepuluh.
            “Iya, sampai ketemu lagi. Wa ‘alaikum salam.” Jawabnya.
            Kami pun melanjutkan ke aktivitas kembali. Dia menuju ke arah kiri, sedangkan aku ke arah kanan. Ya, walaupun satu universitas, gedung perkuliahan kami berbeda tergantung jurusan yang dipilih. Aku merasa senang bertemu dengannya, teman baru yang begitu baik.
            Semenjak perkenalan yang tanpa sengaja itu, kami menjadi semakin dekat. Secara tak sengaja, kami sering bertemu di kampus. Aku juga ditugaskan di daerah yang sama dengannya pada saat KKN (Kuliah Kerja Nyata). Namun semakin lama, aku merasa punya perasaan lain padanya. Dan aku rasa dia pun seperti itu. Mungkinkah aku bisa memendam perasaan ini? Terkadang aku suka memandangnya dari kejauhan. Aku sering mengaguminya dengan cara rahasia tanpa dia menyadarinya. Aku pun mendoakannya di setiap sujudku tanpa ia sadari itu. Hanya aku dan Allah yang tahu perasaan ini. Aku takut tidak bisa membatasi Iman ini.
            Ditengah lamunanku tentangnya, seorang perempuan berhijab datang mengagetkanku. “Assalammu ‘alaikum Fitri.”
            “Wa ‘alaikum salam. Eh, ada Farah. Sini duduk sama Fitri.” Jawabku sambil melihatnya. Farah adalah sahabatku.
            “Fitri kenapa melamun? Apa yang Fitri sedang pikirkan?” tanyanya sambil menatapku.
            “Farah, bolehkah aku meminta pendapatmu?” tanyaku menatapnya juga.
            “Tentu saja boleh, Fitri.” Jawabnya sambil mencubit pipiku.
            “Aku menyukai Firman. Apa aku salah?” tanyaku dengan gugup.
            Farah tersenyum mendengarnya. “Tentu saja tidak, Fitri. Allah memang memberikan perasaan pada setiap hambanya. Tapi ingat satu hal, kamu tidak boleh menampakkan rasamu itu padanya, ya. Biarlah hanya Allah dan kamu yang tahu perasaan itu. Jangan terlalu sering menatapnya, karena itu bisa menimbulkan zina mata. Sebaiknya doakan saja dia di setiap sujudmu”
            “Sulit untukku menundukkan pandangan terhadapnya. Aku ingin menjadi muslimah yang baik. Aku akan berusaha untuk itu. Dalam diam, memang selalu kuselipkan namanya dalam setiap do’aku.” Jawabku sambil menunduk.
            “Saran Farah lagi, Fitri jangan terlalu memikirkan dia, ya. Doakan saja dia terus seperti yang sudah kamu lakukan. Jika memang benar kamu adalah jodohnya, kalian akan dipersatukan Tuhan bagaimana pun caranya. Tapi kalau tidak, bagaimana pun diusahakan, tetap tidak akan dipersatukan. Ingat itu selalu, ya.” Jawabnya sambil memegang daguku untuk menegakkan kepalaku. “Kamu tahu kan cerita tentang Zulaikha ketika mengejar cinta Nabi Yusuf? Saat Zulaikha mengejar cinta Yusuf, makin jauh Yusuf darinya. Tapi saat Zulaikha mengejar cinta Allah, Allah datangkan Yusuf untuknya. Fitri mengerti kan maksud Farah?”
             Aku mengangguk tanda mengerti. “Iya, Farah. Terima kasih atas sarannya. Oh ya, Fitri juga pernah baca tentang Fatimah dan Sayyidina Ali. Yang menjadikan diam sebagai cara untuk mencintai, dan akhirnya Allah persatukan mereka dengan cara-Nya.”
            Farah tersenyum, “Iya benar.” Ia pun memelukku. “Jangan sampai Imanmu goyah karena hal sepele seperti ini, ya ukhti.” Kemudian Ia melepaskanku, “Sudah selesai kan curhatnya? Farah sedang ada keperluan. Jadi harus pergi sekarang”
            “Iya, sudah selesai. Sekali lagi syukron kabiir, yaa ukhti.” Jawabku tersenyum.
            Farah berdiri, “’Afwan, ukhti. Assalammu ‘alaikum”
            Aku pun bangkit berdiri, “Wa ‘alaikum salam.”
            Sepeninggal Farah, aku pun juga kembali melanjutkan aktivitasku. Masih terngiang-ngiang di pikiranku nasehat dari Farah tadi. Farah benar. Jika aku ingin menjadi seorang muslimah yang baik, aku harus mampu mengendalikan Imanku. Aku telah mengatakan itu semua pada Firman. Ia pun menerima alasanku, dan ia bilang akan mendukung caraku dalam menundukkan pandangan terhadapnya. Karena ia pun tahu, Islam tidak mengajarkan pacaran, karena hal itu sama dengan mendekati zina. Dan laki-laki yang sholeh tidak akan melibatkan wanitanya dalam ikatan yang tidak halal. Dia mengatakan akan menunggu rencana Tuhan yang akan mempersatukan mereka kembali.
            Beberapa bulan kemudian, kami diwisuda. Aku sangat senang sekali. Di acara wisuda, orangtuaku datang untuk melihatku. Aku pun sempat mengenalkan Firman kepada mereka. Dan sepertinya mereka menyambut baik Firman. Tapi Firman tidak mengenalkan orangtuanya pada kami. Mungkin mereka tidak datang. Entahlah, aku pun tidak sempat menanyakannya. Aku juga sangat bangga. Kini, tertulis gelar S. Psi, Sarjana Psikologi di belakang namaku. Sungguh penantian serta perjuangan yang sangat panjang untuk mendapatkannya. Dan sekarang aku bersyukur untuk itu. Setelah ini, aku berencana mengamalkan ilmuku di sebuah pondok pesantren. Namun Firman? Dia mengatakan bahwa ia akan menuntut ilmu kembali di luar negeri. Ia akan melanjutkan studi S-2 nya.
            Semenjak acara wisuda itu, aku tidak pernah lagi bertemu dengannya. Mungkin ia sibuk. Tapi ini bagus juga. Aku lebih bisa untuk menundukkan pandanganku terhadapnya. Tapi juga terkadang ada rasa rindu yang menyiksaku. Semua yang aku rasakan, aku tuangkan dalam do’a di setiap sujud kepada Tuhanku.
            Pada suatu malam, selesai sholat serta berdoa, aku merapikan mukenahku. Lalu kemudian, ada dering e-mail yang masuk. Aku lalu mengeceknya. Ternyata dari Firman, seseorang yang kini selalu kusebut dalam setiap doaku.
            “Assalammu ‘alaikum, ukhti Fitri. Apa kabar?”, ujarnya.
            Dengan segera aku membalas, “Wa ‘alaikum salam. Alhamdulillah, Fitri baik. Kalau Firman bagaimana?”
            “Alhamdulillah, Firman pun begitu. Maaf ya, akhir-akhir ini Firman jarang mengirim Fitri pesan. Soalnya kemarin itu sedang sibuk-sibuknya. Tapi sekarang ini sudah tidak lagi. Makanya Ramadhan kali ini, Firman akan pulang ke Indonesia.” Ujarnya menjelaskan.
            “Oh ya? syukurlah. Jangan lupa silaturahmi ke rumah Fitri, ya. Soalnya ayah dan ibu Fitri sering bertanya tentang Firman.” Jawabku.
            “Hehehe.. Benar itu, Fit? Iya, itu pasti. Karena asal kamu tau, kepulanganku ini karena kamu.” Jawabnya.
            “Karena aku? Kenapa bisa gitu?” tanyaku terheran-heran.
            Ia menjawab, “Aku akan meminta izin pada orang tuamu untuk menjalani ta’aruf denganmu, Fit.”
            Aku terkejut. Hal yang telah lama aku impikan, ternyata datang secepat ini. aku bingung apa yang akan kubalas.
            Masuk pesan lagi, “Insyaallah, aku ingin menghalalkan Fitri dengan sebuah ikatan suci yang halal. Jika Allah mengizinkan.”
            “Alhamdulillah. Fitri tidak menyangka akan secepat ini datangnya. Baiklah kalau begitu, nanti Fitri sampaikan pada ayah dan ibu Fitri” jawabku dengan hati penuh harap.
            “Baiklah. Firman hanya ingin menyampaikan itu, Fit. Salam buat ayah dan ibumu. Assalammu ‘alaikum, ukhti” ujarnya menutup percakapan.
            “Wa ‘alaikum salam.” Jawabku singkat.
            Dengan segera aku menutup laptop-ku. Langsung aku turun ke bawah untuk menyampaikan salam dan niat baik Firman. Orang tuaku menyambut baik niat itu. Mereka begitu mendukungnya. Mereka bilang bahwa Firman sepertinya adalah seseorang yang baik dan santun. Mereka juga bilang akan mengikuti apa saja pilihanku, karena aku yang merasa itu yang baik bagiku.
            Beberapa minggu kemudian, hari yang ditentukan Firman untuk pulang ke Indonesia tiba. Ia mengatakan bahwa ia akan terbang dengan penerbangan malam pesawat Lion Air dengan 1x transit pesawat.
            Saat transit ke pesawat kedua, Firman sempat mengirim e-mail kembali. “Doakan aku, ya, untuk penerbangan selanjutnya. Kalau ditakdirkan Tuhan, kita pasti akan bertemu kembali. InsyaAllah. Assalammu ‘alaikum J ”, tutupnya.
            Dengan segera aku membalas, “Wa ‘alaikum salam”.
Kemudian terlihat tanda bahwa pesanku telah dibaca, meskipun tanpa balasan lagi. Namun setelah itu, begitu aneh yang kurasakan. Hatiku jadi tidak enak. Dan pikiranku terasa kacau. Entah pertanda apa ini. “Mungkin karena aku belum menunaikan perintah Tuhan,” gumamku menenangkan hati. Aku pun segera berwudhu dan menjalankan sholat. Namun firasatku masih tidak enak seperti tadi. Lalu aku berdoa kepada Allah untuk menenangkan hatiku agar semuanya baik-baik saja.
            Setelah berdoa, aku merasa lebih tenang. Aku kembali mengecek e-mail untuk mengetahui apa ada pesan baru yang masuk, soalnya ini sudah waktunya Firman tiba. Namun nihil hasilnya.
            “Fitri… Ayo cepat ke sini, nak.” Terdengar suara Ibu memanggil.
            Aku lekas turun. Seketika perasaan tidak enak itu muncul kembali. “Iya, ada apa, bu?” jawabku.
            “Firman bilang ke kamu ia naik penerbangan malam ini, kan?” Tanya Ibu sambil menanti jawaban.
            “Iya, bu. Memangnya ada apa?”, jawabku santai.
            Dengan cepat, Ibu bertanya lagi, “Dengan Lion Air?”
            “Iya, memang benar. Tapi sampai sekarang belum ada kabar apa dia sudah tiba atau belum”, ujarku ketus.
            “Apa dia…..”, ujar Ibu ketakutan.
            Aku penasaran dan melihat TV, “Dia kenapa, bu?
            “Astaghfirullahhal ‘adzim”. Aku terkejut melihat berita terkini yang orangtuaku tonton. Ternyata itu adalah pemberitaan tentang jatuhnya pesawat Lion Air di perbukitan. Pesawat yang seharusnya mengantarkan kepulangan Firman ke Indonesia. Tak percaya, aku kembali ke kamarku untuk mengecek apa ada e-mail yang masuk. Kalau ada, tentulah Firman selamat. Namun hampa hasilnya. Hatiku makin tak karuan. Aku kembali melihat TV, dan kulihat konfirmasi nama penumpang yang ditemukan tewas. Aku teliti nama mereka satu per satu, sampai akhirnya kutemukan nama Firman. Aku menangis sejadi-jadinya. Kenapa keistiqomahan kami selama ini berakhir seperti ini, Tuhan? Tak henti-hentinya aku menyesali hal itu. Ayah dan Ibuku terus saja berusaha menenangkanku, namun tak bisa mengubah keadaan hatiku.
            Setelah hari itu, beberapa hari aku sakit. Aku jatuh. Sampai akhirnya aku menemukan informasi di mana makam Firman berada. Menjelang Idul Fitri tahun ini, aku ditemani Farah dan ayah serta ibuku menyempatkan diri berziarah ke sana. Sesampainya di sana, air mataku mengalir perlahan. Aku membersihkan lalu menaburkan bunga di atas makam itu. Kemudian, aku membaca Surah Yasin. Dan tak lupa Surah ar-Rohman.
“Fabi ayyi aa laa irobbikumaa tukadz dzibaan, tabaarokas murobbika dzil jalaa li wal ikrom. Shodaqallaahul ‘adziim.” Aku menutup al-Qur’an dan mengecupnya. Terbayang di pikiranku lantunan merdu Surah ar-Rohman yang dibacakan Firman yang membuat hatiku bergetar saat itu.
Tuhan, aku merindukan kembali lantunan itu. Belum sempat aku bertemu dengannya. Apa kami memang tidak ditakdirkan bersama? Walaupun penantian kami dalam keistiqomahan sudah mencapai puncak. Namun apa daya jika ridho-Mu tidak hadir di dalamnya. Aku percaya rencana-Mu yang lebih indah, Tuhan. Tempatkan dia ke dalam sebaik-baik tempat di sisi-Mu. Terimalah amal ibadahnya. Kumohon sampaikan salam rinduku, yang kutitipkan dalam Surah ar-Rohman yang selalu aku baca. Aamiin, Yaa Allah.


Tulisan di Blog M Faruq alwi

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar