Kutitipkan Rindu dalam Surah Ar-Rohman
Karya : Nurashikin
Aku mengenalmu tanpa sengaja.
Mungkin bukan, tapi ini takdir Tuhan. Sebuah kebetulan yang sangat misterius.
Untuk apa Tuhan mempertemukan kita? Aku tak terlalu memikirkan hal itu, tapi
aku yakin dan percaya bahwa Tuhan punya rencana yang begitu indah.
Hari hujan. Aku memutuskan untuk
berteduh di mushalla kampus. Tak lama setelah itu, aplikasi pengingat sholat di
smartphone ku berbunyi “Alhamdulillah, sudah masuk waktu ashar.” Lalu aku masuk
ke dalam mushalla untuk meletakkan tas, baru kemudian mengambil wudhu. Namun
aku tertegun. Langkahku terhenti. Ditengah kilat menyambar dan bunyi petir yang
menggelegar, sayup-sayup aku mendengar lantunan ayat suci Al-Qur’an dari
barisan shaf sholat pria.
Lama aku terdiam mendengarkannya. “Subhanallah, sungguh indah
bacaan surat ar-Rahman itu. Siapa yang membacanya? Malaikat-kah?” gumamku dalam
hati. Kemudian aku bergegas ke tempat untuk mengambil wudhu. Sambil berjalan
aku berusaha mencari siapa gerangan yang mengaji dengan indahnya sambil
mengikuti sumber lantunannya. Sekilas aku melihat memang ada seseorang yang
sedang khusyuk mengaji.
Selesai berwudhu, aku masuk lagi ke dalam mushalla. Masih terdengar
lantunan yang masih dibacanya. Terlalu indah yang kudengarkan sampai mengacaukan
kekhusyukan sholatku saat itu. Hujan yang turun semakin menyejukkan tubuhku.
Namun lantunan al-Qur’an itu menyejukkan Qalbu-ku. Rasanya aku ingin bertemu
dengan sosokmu, yang mungkin lembut, selembut tuturmu dalam membaca kitab suci.
Hujan pun mereda sesaat setelah lantunan al-Qur’an selesai
dibacakan. Aku pun mengambil barang-barangku dan bergegas untuk pergi. Tapi
karena terlalu terburu-buru, aku menabrak seseorang sehingga buku-buku yang
kubawa ikut terjatuh. Masya Allah “ujarnya”. Kemudian ia membungkuk untuk
mengambil buku-buku itu.
“Maaf, maafkan saya. Saya benar-benar tidak sengaja” katanya sambil
memberikan buku-bukuku itu.
“Oh tidak apa-apa. Terima kasih karena akhi sudah bantu saya
mengambilkan buku” kuucapkan sambil menerima buku.
“Iya,
sama-sama. Tapi ukhti tidak apa-apa, kan?” katanya.
“Alhamdulillah,
saya tidak apa-apa” ujarku sambil tersenyum.
Sejenak
aku memikirkan sesuatu. Apa mungkin dia? Kemudian aku memberanikan diri
bertanya padanya. “Apa tadi yang membaca al-Qur’an itu adalah akhi?”
“Apa
ukhti mendengarnya? Iya, itu tadi saya. Tapi bagaimana mungkin ukhti
mendengarnya? Bukankah tadi di luar suara petirnya begitu kuat sekali?”
jawabnya dengan sopan.
“Iya,
aku sungguh mendengarnya. Subhanallah. Begitu merdu sekali yang akhi lantunkan.
Rasanya Qalbu saya tentram mendengarnya.” Ucapku berkata jujur.
Dia
tersenyum, “Alhamdulillah. Syukron, yaa ukhti. Oh ya, dari tadi kita bicara
panjang lebar, tapi sama sekali belum berkenalan ya. Kalau boleh tahu, nama
ukhti siapa?”
Aku
menjawab, “Nama saya Fitri. Kalau akhi?
Ia
menjawab dengan ramah, “Saya Firman. Fitri kuliah di sini juga? Di jurusan apa?”
“Fitri
jurusan psikologi. Kalau Firman sendiri?” tanyaku.
“Jadi
ceritanya Fitri calon psikolog muslimah ni, ya. Kalau saya di jurusan
matematika.” Jawabnya lagi.
“Hahaha..
Firman bisa saja. Aamiin, do’akan saja ya. Apa Firman tidak pusing berhadapan
dengan angka-angka? Jujur, sebenarnya Fitri tidak terlalu menyukai matematika.”
Ujarku sambil tertawa.
Ia
pun tertawa, “Nggak sulit. Malah mungkin lebih sulit psikologi yang harus
menghafal banyak materi ya, kan? Saya kurang suka menghafal”
“Saling
berseberangan, ya. Hahaha.. Ya udah, sekarang kita lanjut aktivitas
masing-masing, ya. Senang bertemu dengan akhi. Assalammu ‘alaikum.” ujarku
sambil menyusun jari sepuluh.
“Iya,
sampai ketemu lagi. Wa ‘alaikum salam.” Jawabnya.
Kami
pun melanjutkan ke aktivitas kembali. Dia menuju ke arah kiri, sedangkan aku ke
arah kanan. Ya, walaupun satu universitas, gedung perkuliahan kami berbeda
tergantung jurusan yang dipilih. Aku merasa senang bertemu dengannya, teman
baru yang begitu baik.
Semenjak
perkenalan yang tanpa sengaja itu, kami menjadi semakin dekat. Secara tak
sengaja, kami sering bertemu di kampus. Aku juga ditugaskan di daerah yang sama
dengannya pada saat KKN (Kuliah Kerja Nyata). Namun semakin lama, aku merasa
punya perasaan lain padanya. Dan aku rasa dia pun seperti itu. Mungkinkah aku
bisa memendam perasaan ini? Terkadang aku suka memandangnya dari kejauhan. Aku
sering mengaguminya dengan cara rahasia tanpa dia menyadarinya. Aku pun
mendoakannya di setiap sujudku tanpa ia sadari itu. Hanya aku dan Allah yang
tahu perasaan ini. Aku takut tidak bisa membatasi Iman ini.
Ditengah
lamunanku tentangnya, seorang perempuan berhijab datang mengagetkanku.
“Assalammu ‘alaikum Fitri.”
“Wa
‘alaikum salam. Eh, ada Farah. Sini duduk sama Fitri.” Jawabku sambil
melihatnya. Farah adalah sahabatku.
“Fitri
kenapa melamun? Apa yang Fitri sedang pikirkan?” tanyanya sambil menatapku.
“Farah,
bolehkah aku meminta pendapatmu?” tanyaku menatapnya juga.
“Tentu
saja boleh, Fitri.” Jawabnya sambil mencubit pipiku.
“Aku
menyukai Firman. Apa aku salah?” tanyaku dengan gugup.
Farah
tersenyum mendengarnya. “Tentu saja tidak, Fitri. Allah memang memberikan
perasaan pada setiap hambanya. Tapi ingat satu hal, kamu tidak boleh
menampakkan rasamu itu padanya, ya. Biarlah hanya Allah dan kamu yang tahu
perasaan itu. Jangan terlalu sering menatapnya, karena itu bisa menimbulkan
zina mata. Sebaiknya doakan saja dia di setiap sujudmu”
“Sulit
untukku menundukkan pandangan terhadapnya. Aku ingin menjadi muslimah yang
baik. Aku akan berusaha untuk itu. Dalam diam, memang selalu kuselipkan namanya
dalam setiap do’aku.” Jawabku sambil menunduk.
“Saran
Farah lagi, Fitri jangan terlalu memikirkan dia, ya. Doakan saja dia terus
seperti yang sudah kamu lakukan. Jika memang benar kamu adalah jodohnya, kalian
akan dipersatukan Tuhan bagaimana pun caranya. Tapi kalau tidak, bagaimana pun
diusahakan, tetap tidak akan dipersatukan. Ingat itu selalu, ya.” Jawabnya
sambil memegang daguku untuk menegakkan kepalaku. “Kamu tahu kan cerita tentang
Zulaikha ketika mengejar cinta Nabi Yusuf? Saat Zulaikha mengejar cinta Yusuf,
makin jauh Yusuf darinya. Tapi saat Zulaikha mengejar cinta Allah, Allah
datangkan Yusuf untuknya. Fitri mengerti kan maksud Farah?”
Aku mengangguk tanda mengerti. “Iya, Farah.
Terima kasih atas sarannya. Oh ya, Fitri juga pernah baca tentang Fatimah dan
Sayyidina Ali. Yang menjadikan diam sebagai cara untuk mencintai, dan akhirnya Allah
persatukan mereka dengan cara-Nya.”
Farah
tersenyum, “Iya benar.” Ia pun memelukku. “Jangan sampai Imanmu goyah karena
hal sepele seperti ini, ya ukhti.” Kemudian Ia melepaskanku, “Sudah selesai kan
curhatnya? Farah sedang ada keperluan. Jadi harus pergi sekarang”
“Iya,
sudah selesai. Sekali lagi syukron kabiir, yaa ukhti.” Jawabku tersenyum.
Farah
berdiri, “’Afwan, ukhti. Assalammu ‘alaikum”
Aku
pun bangkit berdiri, “Wa ‘alaikum salam.”
Sepeninggal
Farah, aku pun juga kembali melanjutkan aktivitasku. Masih terngiang-ngiang di
pikiranku nasehat dari Farah tadi. Farah benar. Jika aku ingin menjadi seorang
muslimah yang baik, aku harus mampu mengendalikan Imanku. Aku telah mengatakan
itu semua pada Firman. Ia pun menerima alasanku, dan ia bilang akan mendukung
caraku dalam menundukkan pandangan terhadapnya. Karena ia pun tahu, Islam tidak
mengajarkan pacaran, karena hal itu sama dengan mendekati zina. Dan laki-laki yang
sholeh tidak akan melibatkan wanitanya dalam ikatan yang tidak halal. Dia
mengatakan akan menunggu rencana Tuhan yang akan mempersatukan mereka kembali.
Beberapa
bulan kemudian, kami diwisuda. Aku sangat senang sekali. Di acara wisuda,
orangtuaku datang untuk melihatku. Aku pun sempat mengenalkan Firman kepada
mereka. Dan sepertinya mereka menyambut baik Firman. Tapi Firman tidak
mengenalkan orangtuanya pada kami. Mungkin mereka tidak datang. Entahlah, aku
pun tidak sempat menanyakannya. Aku juga sangat bangga. Kini, tertulis gelar S.
Psi, Sarjana Psikologi di belakang namaku. Sungguh penantian serta perjuangan
yang sangat panjang untuk mendapatkannya. Dan sekarang aku bersyukur untuk itu.
Setelah ini, aku berencana mengamalkan ilmuku di sebuah pondok pesantren. Namun
Firman? Dia mengatakan bahwa ia akan menuntut ilmu kembali di luar negeri. Ia
akan melanjutkan studi S-2 nya.
Semenjak
acara wisuda itu, aku tidak pernah lagi bertemu dengannya. Mungkin ia sibuk.
Tapi ini bagus juga. Aku lebih bisa untuk menundukkan pandanganku terhadapnya.
Tapi juga terkadang ada rasa rindu yang menyiksaku. Semua yang aku rasakan, aku
tuangkan dalam do’a di setiap sujud kepada Tuhanku.
Pada
suatu malam, selesai sholat serta berdoa, aku merapikan mukenahku. Lalu
kemudian, ada dering e-mail yang masuk. Aku lalu mengeceknya. Ternyata dari
Firman, seseorang yang kini selalu kusebut dalam setiap doaku.
“Assalammu
‘alaikum, ukhti Fitri. Apa kabar?”, ujarnya.
Dengan
segera aku membalas, “Wa ‘alaikum salam. Alhamdulillah, Fitri baik. Kalau
Firman bagaimana?”
“Alhamdulillah,
Firman pun begitu. Maaf ya, akhir-akhir ini Firman jarang mengirim Fitri pesan.
Soalnya kemarin itu sedang sibuk-sibuknya. Tapi sekarang ini sudah tidak lagi.
Makanya Ramadhan kali ini, Firman akan pulang ke Indonesia.” Ujarnya
menjelaskan.
“Oh
ya? syukurlah. Jangan lupa silaturahmi ke rumah Fitri, ya. Soalnya ayah dan ibu
Fitri sering bertanya tentang Firman.” Jawabku.
“Hehehe..
Benar itu, Fit? Iya, itu pasti. Karena asal kamu tau, kepulanganku ini karena
kamu.” Jawabnya.
“Karena
aku? Kenapa bisa gitu?” tanyaku terheran-heran.
Ia
menjawab, “Aku akan meminta izin pada orang tuamu untuk menjalani ta’aruf
denganmu, Fit.”
Aku
terkejut. Hal yang telah lama aku impikan, ternyata datang secepat ini. aku
bingung apa yang akan kubalas.
Masuk
pesan lagi, “Insyaallah, aku ingin menghalalkan Fitri dengan sebuah ikatan suci
yang halal. Jika Allah mengizinkan.”
“Alhamdulillah.
Fitri tidak menyangka akan secepat ini datangnya. Baiklah kalau begitu, nanti
Fitri sampaikan pada ayah dan ibu Fitri” jawabku dengan hati penuh harap.
“Baiklah.
Firman hanya ingin menyampaikan itu, Fit. Salam buat ayah dan ibumu. Assalammu
‘alaikum, ukhti” ujarnya menutup percakapan.
“Wa
‘alaikum salam.” Jawabku singkat.
Dengan
segera aku menutup laptop-ku. Langsung aku turun ke bawah untuk menyampaikan
salam dan niat baik Firman. Orang tuaku menyambut baik niat itu. Mereka begitu
mendukungnya. Mereka bilang bahwa Firman sepertinya adalah seseorang yang baik
dan santun. Mereka juga bilang akan mengikuti apa saja pilihanku, karena aku
yang merasa itu yang baik bagiku.
Beberapa
minggu kemudian, hari yang ditentukan Firman untuk pulang ke Indonesia tiba. Ia
mengatakan bahwa ia akan terbang dengan penerbangan malam pesawat Lion Air
dengan 1x transit pesawat.
Saat
transit ke pesawat kedua, Firman sempat mengirim e-mail kembali. “Doakan aku,
ya, untuk penerbangan selanjutnya. Kalau ditakdirkan Tuhan, kita pasti akan
bertemu kembali. InsyaAllah. Assalammu ‘alaikum J ”, tutupnya.
Dengan
segera aku membalas, “Wa ‘alaikum salam”.
Kemudian terlihat
tanda bahwa pesanku telah dibaca, meskipun tanpa balasan lagi. Namun setelah
itu, begitu aneh yang kurasakan. Hatiku jadi tidak enak. Dan pikiranku terasa
kacau. Entah pertanda apa ini. “Mungkin karena aku belum menunaikan perintah
Tuhan,” gumamku menenangkan hati. Aku pun segera berwudhu dan menjalankan
sholat. Namun firasatku masih tidak enak seperti tadi. Lalu aku berdoa kepada
Allah untuk menenangkan hatiku agar semuanya baik-baik saja.
Setelah
berdoa, aku merasa lebih tenang. Aku kembali mengecek e-mail untuk mengetahui
apa ada pesan baru yang masuk, soalnya ini sudah waktunya Firman tiba. Namun
nihil hasilnya.
“Fitri…
Ayo cepat ke sini, nak.” Terdengar suara Ibu memanggil.
Aku
lekas turun. Seketika perasaan tidak enak itu muncul kembali. “Iya, ada apa,
bu?” jawabku.
“Firman
bilang ke kamu ia naik penerbangan malam ini, kan?” Tanya Ibu sambil menanti
jawaban.
“Iya,
bu. Memangnya ada apa?”, jawabku santai.
Dengan
cepat, Ibu bertanya lagi, “Dengan Lion Air?”
“Iya,
memang benar. Tapi sampai sekarang belum ada kabar apa dia sudah tiba atau
belum”, ujarku ketus.
“Apa
dia…..”, ujar Ibu ketakutan.
Aku
penasaran dan melihat TV, “Dia kenapa, bu?
“Astaghfirullahhal
‘adzim”. Aku terkejut melihat berita terkini yang orangtuaku tonton. Ternyata
itu adalah pemberitaan tentang jatuhnya pesawat Lion Air di perbukitan. Pesawat
yang seharusnya mengantarkan kepulangan Firman ke Indonesia. Tak percaya, aku kembali
ke kamarku untuk mengecek apa ada e-mail yang masuk. Kalau ada, tentulah Firman
selamat. Namun hampa hasilnya. Hatiku makin tak karuan. Aku kembali melihat TV,
dan kulihat konfirmasi nama penumpang yang ditemukan tewas. Aku teliti nama
mereka satu per satu, sampai akhirnya kutemukan nama Firman. Aku menangis
sejadi-jadinya. Kenapa keistiqomahan kami selama ini berakhir seperti ini,
Tuhan? Tak henti-hentinya aku menyesali hal itu. Ayah dan Ibuku terus saja
berusaha menenangkanku, namun tak bisa mengubah keadaan hatiku.
Setelah
hari itu, beberapa hari aku sakit. Aku jatuh. Sampai akhirnya aku menemukan
informasi di mana makam Firman berada. Menjelang Idul Fitri tahun ini, aku
ditemani Farah dan ayah serta ibuku menyempatkan diri berziarah ke sana. Sesampainya
di sana, air mataku mengalir perlahan. Aku membersihkan lalu menaburkan bunga di
atas makam itu. Kemudian, aku membaca Surah Yasin. Dan tak lupa Surah
ar-Rohman.
“Fabi ayyi aa laa
irobbikumaa tukadz dzibaan, tabaarokas murobbika dzil jalaa li wal ikrom.
Shodaqallaahul ‘adziim.” Aku menutup al-Qur’an dan mengecupnya. Terbayang di
pikiranku lantunan merdu Surah ar-Rohman yang dibacakan Firman yang membuat
hatiku bergetar saat itu.
Tuhan, aku
merindukan kembali lantunan itu. Belum sempat aku bertemu dengannya. Apa kami
memang tidak ditakdirkan bersama? Walaupun penantian kami dalam keistiqomahan
sudah mencapai puncak. Namun apa daya jika ridho-Mu tidak hadir di dalamnya.
Aku percaya rencana-Mu yang lebih indah, Tuhan. Tempatkan dia ke dalam
sebaik-baik tempat di sisi-Mu. Terimalah amal ibadahnya. Kumohon sampaikan salam
rinduku, yang kutitipkan dalam Surah ar-Rohman yang selalu aku baca. Aamiin,
Yaa Allah.
Tulisan di Blog M Faruq alwi

